afp-photo:

INDONESIA, Cihampelas : In this photograph taken on April 13, 2014, scavengers on boats salvage plastic waste for recycling on the Citarum river choked with garbage in Cihampelas district in West Java province. This immense aquatic rubbish bin winds 297 kilometres (185 miles) across the island of Java, cutting through the sprawling Indonesian capital Jakarta. Labelled “the most-polluted in the world” by a local commission of government agencies and NGOs charged with its clean-up, the river is the only source of water for 15 million Indonesians who live on its banks, despite the risks to health and crops. AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI

afp-photo:

INDONESIA, Cihampelas : In this photograph taken on April 13, 2014, scavengers on boats salvage plastic waste for recycling on the Citarum river choked with garbage in Cihampelas district in West Java province. This immense aquatic rubbish bin winds 297 kilometres (185 miles) across the island of Java, cutting through the sprawling Indonesian capital Jakarta. Labelled “the most-polluted in the world” by a local commission of government agencies and NGOs charged with its clean-up, the river is the only source of water for 15 million Indonesians who live on its banks, despite the risks to health and crops. AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI

image

what do you see my dearest dear?

a dim of warmth? a red flash? like my flesh?

or a Tuscany sun? our golden mornings?

a house? a home? a face?

——

Bandung, March 2014 | room no.5

Gurauan pagi buta

Bandung, 1.44 pagi.

Hidup itu meletup-meletup. Seperti jagung-jagung kecil di dalam oven panas. Loncat ke sana kemari, blingsatan! Di lempar ke atas, lalu mendarat lagi, lalu ke atas lagi, ke kiri, ke kanan, lalu ke bawah lagi. Seperti berondong jagung yang sedang dimasak.

Rasanya seperti dilempar-lemparkan ke angkasa, mendarat lagi ke tanah, lalu dilemparkan kembali. Selanjutnya, saya mengembang dan berisi seperti berondong jagung. Bulat-bulat dan garing.

Terkadang, ketika dilempar-lemparkan ke angkasa, ke kiri dan kanan, saya merasa dipermainkan oleh hidup. Padahal, seperti kata Ayu Utami: "Hidup adalah permainan. Tapi hidupmu juga tak boleh dikuasai permainan."

Ah, tapi saya memang sedang tidak dipermainkan oleh hidup. Tetapi terlalu sering bermain-main, hingga kelewat batas dan lupa. Lupa banyak hal. Lupa untuk berhenti sejenak dan rehat barang sejenak. Rehat bukan berarti diam, melainkan mengurangi kecemasan-kecemasan saya yang tak berarti. Juga mengurangi ketakutan saya terhadap keterbatasan dan hal-hal yang tidak terjadi.

Beginilah saya sekarang, sedang dilempar-lempar ke sana kemari. Penuh dengan rasa antisipasi menggapai angkasa, lalu dikirimkan kembali keras-keras ke bumi. Sakit. Jatuh. Tetapi terbang lagi. Jatuh lagi. Terbang lagi. Hingga saya ingin membeli berondong jagung, sekarang.

Dan di saat seperti inilah kegelisahan saya yang lalu dijawab oleh semesta. Kalau saya tidak sendirian. Walaupun pada akhirnya memang kita semua harus berdiri di atas kaki sendiri. Tetapi, ketika kaki saya belum kuat untuk menopang diri sendiri, selalu ada manusia-manusia baik hati yang mendorong saya untuk berdiri, berjalan, bahkan berlari.

 Rabu-bukan-abu, Maret

(ditemani Alexandre Desplat di sela-sela bacaan-bacaan gila mengenai maternal health)

"Hahahahahahaha! Makanya kak Day jangan kegendutan. Habis ini kita yoga ya…"

"Ini serius atau bercandaan ya?"

"Kegendutan sih….."

"Tuh kan, aneh banget kamunya."

"Makanya kalau jalan jangan sambil berfilosofi, mikir yang berat-berat."

"Lo lagi sok anggun pake rok, tebar pesona gitu kali, sampe lupa caranya turun tangga."

"Kok lo ujian dulu sih? Dasar anak gila!"

"Aku ketawa sih ngebayanginnya."

"Makanya hati-hati."

"Minggu kamu ke gereja, berdoa sama Tuhan biar cepet recovery-nya."

"Kamu bandel sih."

"Perbannya kenapa beda warna?"

"Kenapa gak pake lift?"

"Ada aja…."

"Terus, pameranlo gimana? Bukannya lo belum motret?"

"Masih sempet bikin film?"

"Yah gak jadi ketemu dong."

"Gak usah dipikirin. Makan yang enak-enak aja."

"Udah-udah, tahu batas. Fokus istirahat dulu biar cepet jalan."

"Kebanyakan mikir, sih!"

Tangga gedung 10 - Borromeus - Pak Haji Bohon - Ciumbuleuit

Maret 2014 - a turning point.

gasoline-station:

Hitchhiker

by Thorunn Arnadottir

"Could some sort of hand signal system be used to utilise the available seats in our domestic cars as an alternative ‘public transport’? Hand signals could be based on a landmark or social characterisation specific to native locations. This way we can communicate directly and efficiently, our desired direction and end location directly to the passing potential ride."

*langsung inget mabella + dilly*

fotojournalismus:

Vrindavan, India | March 14, 2014

Breaking centuries-old tradition, around 1,000 widows living in the holy city of Vrindavan celebrated the spring colour festival of Holi at Meera Sahabhagini Sadan in Vrindavan. In a symbolic gesture, the widows celebrated Holi with colours and gulal (coloured powder) unlike the previous year where they only sprinkled flower petals over each other. As per Indian tradition, widows are considered social outcasts and refrain from celebrating Holi. 

(Photos by Ahmad Masood/ReutersManish Swarup/AP, Prakash Singh/AFP/Getty Images, Harish Tyagi/EPA)

someday!