People think dreams aren’t real just because they aren’t made of matter, of particles. Dreams are real. But they are made of viewpoints, of images, of memories and puns and lost hopes.

geejayeff:

aaajmachine:

I know you don’t like to talk, but you gotta do it for her.

Yadriel & Maria appreciation post ✿◕‿◕✿

HE SAID MORE THAN HE DID ALL SEASON. I THOUGHT HE DIDN’T CARE. I THOUGHT HE WAS JUST BEING NICE AND LETTING HIS BABY MAMA SEE THE BABY THAT HE PROBABLY DIDN’T REALLY WANT AND BARELY LOOKED AFTER BUT I WAS FUCKING WRONG. I WAS WRONG ABOUT HIM. HE’S JUST QUIET. THE DUDE IS STOIC AS FUCK AND HE FUCKING LOVES MARIA AND HE LOVES THAT BABY AND IT’S FUCKING BEAUTIFUL THE WAY HE GUSHES AND TALKS TO HER LIKE MARIA ASKED HIM TO DO BECAUSE HE WANTS HER TO GROW UP SMART AND LOVED.

But also look at how cute the baby is dressed in each visit. Who did that? Daddy did. But that’s exactly the kind of visual cue that gets lost when he’s getting judged for his bald head, tattoos and stoic (thuggish?) demeanor.

(Source: jamescookjr, via neverpleasingyou)

Every person has their own color. Did you know that?” he said. “No, I didn’t.” “Each individual has their own unique color, which shines faintly around the contours of their body. Like a halo. Or a backlight. I’m able to see those colors clearly.

papress:

In 1971, Marguerite Hart, the first children’s librarian at the Troy Public Library, contacted a number of public figures asking them to write about the importance of libraries and about their experiences of reading. This was author E. B. White’s response. 

More reflections on the significance of libraries can be found in The Public Library: A Photographic Essay by Robert Dawson.

So when people leave, I’ve learned the secret: let them. Because, most of the time, they have to.

Let them walk away and go places. Let them have adventures in the wild without you. Let them travel the world and explore life beyond a horizon that you exist in. And know, deep down, that heroes aren’t qualified by their capacity to stay but by their decision to return.

Persimpangan

Sebulan telah lewat.

Rutinitas: Senin-Jumat. Bangun pukul setengah lima pagi. Tol lingkar luar, dengan matahari terbit di punggungku. Rute yang sama, Tugu Tani yang selalu diam. Dengan pertanyaan rutinitas dari ibuku,”itu patungnya dari Rusia kan ya?”

Aku sampai hafal gradasi matahari pagi. Tingkat kebiruan langit, intensitas asap kota dari jalan layang. Termasuk sudut matahari menerpa Tugu Tani atau tulisan ‘Senen’ yang zadul itu.

Enam tigapuluh. Satu setengah jam lebih cepat daripada jam kerja resmi. Mengecek e-mail, membaca berita-berita yang relevan. Tak jauh dari cerita mengenai laut, kapal, Afghanistan, Tamil, atau Australia. Diselingi dengan sepercik berita dari Afrika. Nigeria. Boko Haram. Sudan. Somalia. Dan aku terheran-terheran pada orang Iran.

Lalu bersiap mendengar dan merekam cerita-cerita mirip tapi berbeda. Lalu menemukan pola. Orang-orang asing berkeluh-kesah, meratap, protes, mengadu atau mengada. Atau hanya bingung dan naif. Antara menipu atau ditipu. Harus mengusir rasa kasihan. Agar tetap berpikir kritis dan jernih. Tetapi tetap bersikap sopan. ‘Respect and Dignity’.

Lima sore. Merapikan mejaku, memastikan tak ada yang terselip. Jangan sampai hidup orang yang tak kukenal terselip karena saya ceroboh. Rapi. Pelajaran sekaligus tantangan untukku.

Tujuh tigapuluh. Meluruskan kaki di sofa rumah. Satu gelas teh tawar panas. Mandi air dingin. Selalu ada letupan rasa bahagia satu detik sebelum saya menutup mata. Lalu tidur.

Lalu semua itu diputar ulang. Terus menerus, seperti lingkaran tanpa awal dan akhir.

—-

Enam tigapuluh. Menyusuri Sabang. Belum ada yang siap sepagi ini. Saya butuh kopi atau teh. Bahkan roti srikaya. Atau horlicks panas. Akhirnya kaki saya selalu berakhir di Skyline. Melewati jalan tikus kecil dengan bau kambing. Starbucks Skyline. Saksi bisu segala momen berharga saya di Jakarta, sekarang menjadi bagian dari improvisasi rutinitas. Saya tahu kopi Aroma jauh jauh lebih enak, tapi saya butuh tempat singgah sepagi ini. Saya tahu, di sini tidak ada roti srikaya. Saya rindu scones cokelat, yang tak pernah terlihat lagi. Green Tea Latte panas, dengan satu shot espresso. Favorit seseorang yang hilang.

Duduk diam melamun satu setengah jam. Mendengar suara-suara asing. Memandang perempatan Thamrin dari kejauhan. Atau melanjutkan membaca buku yang tertunda. Tapi saya lebih sering, dan suka melamun. Menikmati ketiadaan di antara keramaian.

Sketchbook saya selalu terbuka dan drawing pen bersedia di atas meja. Tetapi hingga pukul delapan, kertasnya selalu berakhir kosong.

Berjalan pelan menikmati udara pagi Jakarta: asap. Menyusuri jalan dengan bau kambing. Sabang selalu punya bau khas yang tiada dimiliki jalan lainnya. Kambing dan kambing. Sedikit asap. Manusia-manusia asing yang menjadi bagian rutinitasku, bersiap. Seorang ibu dengan hidangan nasi dan lauk-pauk yang siap dijual. Juru parkir yang merokok, minum kopi, menunggu mobil datang. Truk sampah, mengangkut sampah malam sebelumnya.

Semenit saya merasa bahagia.

—-

Entah namanya kejenuhan atau apa, saya tidak tahu. Tapi istirahat makan siang biasanya diisi dengan melihat-lihat Liftedbrow. Monocle. Artspace. Berusaha mengikuti perkembangan-perkembangan karya seni kontemporer Asia. Booooooom. Archdaily. Dazed and Confused. Melihat karya-karya arsitektur, film-film pendek. Terkejut mengenai eksistensi HRAFF. Memandangi karya ilustrasi seniman asing maupun Indonesia. Banyak bakat di luar sana. Mendaftarkan diri online courses tentang studi Warhol dari MoMa. Menyedihkan. Memandang foto-foto ‘non-jurnalistik’ yang menyentuh. Lalu saya selalu terenyuh, bingung dan iri.

Membayangkan mereka bekerja tidak di kubikel. Menjadi bos atas diri sendiri. Jam kerja bebas. Kolaboratif. Menghabiskan waktu di co-working spaces yang asik. Seperti Hubud.

Sedang ada di persimpangan jalan mengenai masa depan. Seseorang pernah berkata bahwa saya (sering) terlalu takut dengan hal-hal yang belum terjadi.

Inilah persimpangan itu:
satu jalan yang terdengar egois: ekspresi diri dan eksplorasi individualis. Tak ada kontribusi nyata untuk kemanusiaan. Tetapi ketenangan batin yang mungkin tercapai, perdebatan dalam diri yang menemukan titik terang. Jam kerja yang bebas.

satu jalan yang lain: ekspresi dan eksplorasi terbatas, nyaris tidak ada. Impian tentang laissez passer dan daerah konflik. Berkontribusi pada kemanusiaan, dalam peran-peran kecil. Rewarding feelings di tiap akhir hari. Ketenangan batin mungkin tercapai di bawah langit kembang api molotov.

Saya hanya takut terjebak dengan rutinitas. Walaupun bisa sedikit diimprovisasi dengan rute berangkat dan pulang yang berbeda, mencicipi kedai kopi yang berbeda, atau….entahlah.

Tetapi saya bersyukur, sekarang masih di sesi test-drive. Have room for making stupid mistakes.

—-

Entahlah.

Itu kata favorit saya tahun ini. Januari hingga hari ini, turbulensinya cukup untuk menggetarkan kepercayaan, memacu adrenalin dan menantang ketenangan.


Jakarta-Bandung
Juli-Agustus 2014

Anonymous: We call each other Love. We make love. But, we don't love. So what are we doing? And what's love exactly?

benlaksana:

We are merely jumping like a monkey from one form of desire and security to another. Can love be made? Or does it arise on its own when you understand what is not love?